Berita

Perekonomian Sulbar 2025 Tumbuh Solid, Inflasi Terkendali dan Stabilitas Sistem Keuangan Tetap Terjaga

MAMUJU, REFERENSIMEDIA.COM — Perekonomian Sulawesi Barat menunjukkan kinerja yang tetap kuat sepanjang tahun 2025 di tengah dinanika perekonomian global dan kebijakan efisiensi fiskal.

Pada Triwulan V 2025, ekonomi
Sulawesi Barat tumbuh sebesar 6,55 persen (yoy), meningkat dibandingkan Triwulan lII 2025 sebesar 5,83 persen (yoy) serta lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional pada periode yang sama sebesar 5,39 persen (yoy).

Secara keseluruhan tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat tercatat sebesar 5,36 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2024 sebesar 4,76 persen (yoy) dan berada di atas
pertumbuhan nasional tahun 2025 sebesar 5,11 persen (yoy).

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan
tersebut didorong pertumbuhan berbagai Lapangan Usaha:

i) Kinerja Lapangan Usaha Pertanian, seiring peningkatan produksi padi, Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit, peningkatan produksi getah pinus untuk ekspor, serta peningkatan produksi ayam potong untuk mendukung program makan bergizi Gratis (MBG);

i) Lapangan usaha Pengolahan turut tumbuh positif didukung peningkatan produksi CPO dan turunannya serta penguatan industri kimia berbasis minyak atsiri dan arang.

iii) Lapangan Usaha Perdagangan juga mencatatkan pertumbuhan seiring meningkatnya transaksi perdagangan pangan dan kendaraan bermotor.

iv) Lapangan Usaha Administrasi
Pemerintahan juga tumbuh sejalan dengan peningkatan realisasi belanja pegawai baik APBD maupun APBN akibat penambahan formasi ASN PPPK.

Namun demikian, pertumbuhan yang lebih tinggi tertahan oleh kontraksi pada Lapangan Usaha Konstruksi akibat penurunan realisasi belanja modal pemerintah untuk proyek jalan, jembatan, dan irigasi serta kontraksi signifikan pada pengadaan semen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada tahun 2025 ditopang oleh:

i) Peningkatan ekspor seiring kenaikan produksi CPO dan turunannya; ii) Peningkatan produksi perkebunan semusim; serta iii) Penguatan industri kimia.

Sementara konsumsi rumah tangga relatif melambat dibandingkan tahun sebelumnya dikarenakan terjadinya moderasi pendapatan rumah tangga yang sebagian besar bergantung pada sektor ASN.

Di sisi lain, Pembentukan Modal
Bruto (PMTB) mengalami kontraksi terutama pada komponen bangunan akibat penurunan belanja modal pemerintah yang terdampak kebijakan efisiensi anggaran, sementara komponen Konsumsi Pemerintah juga mengalami moderasi pada belanja barang dan jasa serta belanja modal.

Secara keseluruhan, struktur pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa ekspor komoditas berbasis sumber daya alam masih menjadi penopang utama perekonomian Sulawesi Barat, dengan dukungan konsumsi domestik yang tetap terjaga di tengah dinamika kebijakan fiskal
Dari sisi kestabilan harga barang dan jasa, inflasi Sulawesi Barat sepanjang tahun 2025 secara umum masih terjaga dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5+1 persen, mencerminkan efektivitas
sinergi pengendalian inflasi daerah.

Memasuki awal tahun 2026, tingkat inflasi Sulawesi Barat pada Januari 2026 tercatat sebesar 4,34 persen (yoy) dengan inflasi bulanan sebesar 0,71 persen (mtm). Secara
spasial, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Mamuju sebesar 6,94 persen (yoy), sementara Kabupaten Majene tercatat sebesar 2,69 persen (yoy).

Tekanan inflasi pada Januari 2026 terutama
bersumber dari komoditas cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan jeruk nipis, seiring normalisasi pasokan hortikultura dari sentra produksi luar daerah seperti Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan serta penyesuaian distribusi di tingkat lokal.

Selain itu, kelompok makanan ringan
menjadi salah satu komoditas yang mengalami inflasi seiring dengan meningkatnya permintaan pasca periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami
penurunan harga, khususnya kelompok aneka ikan laut (ikan layang, tuna, cakalang, dan tongkol) yang dipengaruhi dinamika cuaca, tingginya volatilitas gelombang laut di perairan Sulawesi serta berakhirnya musim tangkap pada triwulan sebelumnya.

Sementara emas perhiasan mengalami
Barat, penyesuaian harga sejalan dengan tren kenaikan harga emas global di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Secara keseluruhan, perkembangan inflasi Sulawesi Barat menunjukkan
dinamika pasokan pangan dan faktor eksternal yang tetap perlu diantisipasi melalui penguatan koordinasi pengendalian inflasi daerah guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Dari sisi stabilitas sistem keuangan daerah, kinerja perbankan Sulawesi Barat tetap terjaga dengan intermediasi yang relatif solid. Pertumbuhan kredit pada Triwulan IV 2025 tercatat sebesar 6,87 persen (yoy), sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 10,22 persen (yoy).

Rasio kredit bermasalah (NPL) berada pada rentang yang stabil di kisaran 4,25-4,63 persen pada 2023-2025,
mencerminkan kualitas kredit yang tetap terjaga. Kredit rumah tangga tumbuh stabil pada kisaran 8-12 persen sepanjang 2024-2025 dan menjadi pendorong utama ekspansi kredit daerah, senentara kredit
korporasi menunjukkan moderasi pertumbuhan di kisaran 3,44-3,65 persen (yoy) dengan NPL korporasi
yang masih relatif tinggi pada kisaran 7,2-8,0 persen, sehingga tetap menjadi perhatian dalam penguatan manajemen resiko perbankan.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, Kredit UMKM di Sulawesi Barat berdasarkan lokasi proyek pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp8,00 triliun atau tumbuh 1,27 persen (yoy) dan didominasi oleh sektor pertanian. Meskipun pertumbuhan pembiayaan UMKM relatif moderat, kualitas kredit tetap menjadi perhatian derngan rasio NPL UMKM sebesar 3,59 persen, sehingga diperlukan penguatan mitigasi risiko dan pendampingan usaha secara berkelanjutan.

Sebagai bagian dari pelaksanaan mandat dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, KPwBI Provinsi Sulawesi Barat terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah Daerah, instansi vertikal, dan mitra strategis lainnya.

Penguatan dilakukan melalui optimalisasi strategi 4K dalam pengendalian inflasi, melalui penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah, subsidi ongkos angkut, replikasi Kios Pangan “PAK RAHMAN”,  serta penguatan komunikasi publik melalui Gerakan Bersama Jaga Inflasi (GERAI).

Di sisi pengembangan ekonomi, Bank Indonesia mendorong penguatan UMKM nelalui pilar korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan fasilitasi pembiayaan, serta
penguatan ekonomi dan keuangan syariah melalui pengembangan ekosistem halal, onboarding wakaf produktif, dan literasi ekonomi syariah.

Secara keseluruhan, perekonomian Sulawesi Barat pada tahun 2025 menunjukkan kinerja yang kuat
dengan pertumbuhan yang meningkat, inflasi yang tetap terkendali, serta siabilitas sistem keuangan yang terjaga.

Dengan sinergi kebijakan yang terus diperkuat dan dukungan berbagai program
pengembaign 2026, sejalan ekonomi daerah, Sulawesi Barat diprakirakan akan tetap tumbuh positif dan berdaya tahan pada dengan upaya menjaga stabilitas makro ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. (hms/**)

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.