Angkutan Jalan Perintis di Sulbar Hadapi Kendala Armada dan Persaingan Angkutan Ilegal
MAMUJU, REFERENSIMEDIA.COM – Program Angkutan Jalan Perintis di Provinsi Sulawesi Barat tahun anggaran 2025 masih menghadapi sejumlah tantangan struktural, mulai dari keterbatasan armada, minimnya fasilitas terminal dan halte, hingga persaingan dengan angkutan tidak resmi atau ilegal yang beroperasi tanpa izin.
Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas III Sulawesi Barat, Ahmad Rezy Setiawan, mengatakan bahwa keberadaan angkutan perintis tetap menjadi elemen penting dalam membuka aksesibilitas masyarakat, khususnya di wilayah yang belum terlayani angkutan komersial.
Menurutnya, kondisi geografis Sulawesi Barat yang didominasi wilayah berbukit dan jarak antar kecamatan yang cukup jauh menjadikan intervensi pemerintah melalui angkutan perintis sebagai kebutuhan mendasar.
“Angkutan jalan perintis dirancang untuk menjawab keterbatasan layanan transportasi di wilayah terpencil. Program ini bukan sekadar mobilitas orang, tetapi juga mendukung distribusi barang serta akses masyarakat menuju pusat pelayanan dasar,” ujar Ahmad Rezy.
Namun demikian, dalam pelaksanaannya masih ditemukan berbagai kendala di lapangan. Salah satu yang paling menonjol adalah maraknya angkutan ilegal seperti ojek dan kendaraan omprengan yang beroperasi tanpa izin resmi. Keberadaan angkutan tersebut kerap menarik penumpang karena tarif yang fleksibel, sehingga berdampak pada menurunnya jumlah pengguna angkutan perintis.
Selain itu, dukungan fasilitas di terminal dan halte juga dinilai belum memadai. Tidak semua rute memiliki titik naik-turun penumpang yang layak, bahkan sebagian belum dilengkapi tempat istirahat yang representatif bagi pengemudi dan penumpang.
Kendala lainnya adalah keterbatasan jumlah armada. Beberapa kendaraan yang digunakan telah berusia tua dan rentan mengalami gangguan teknis, sehingga memengaruhi keandalan layanan. Di sisi lain, kebijakan efisiensi anggaran pada Triwulan I Tahun Anggaran 2025 turut berdampak pada pengaturan jadwal operasional dan optimalisasi pelayanan di sejumlah trayek.
Pada tahun 2025, terdapat lima trayek angkutan jalan perintis yang beroperasi di Sulawesi Barat, yakni rute Mamuju–Keppe; Mamuju–Martajaya; Terminal Tipalayo–Pelabuhan Ferry Mamuju; Terminal Majene–Aralle; serta Batu Parigi – Mamuju-Lambanan. Setiap trayek dilayani oleh dua unit armada, dengan tambahan dua armada cadangan.
Ahmad Rezy menegaskan, pemerintah tetap berkomitmen menjaga keberlanjutan layanan angkutan perintis sebagai bagian dari upaya pemerataan pembangunan dan penguatan ekonomi lokal.
“Angkutan perintis berperan penting dalam membuka konektivitas antarwilayah dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Evaluasi dan koordinasi lintas sektor akan terus kami lakukan agar pelayanan ke depan semakin optimal,” pungkasnya. (**)


Leave a Reply